Hanya Lewat Kulit, Ilmuwan Temukan Cara Baru Menghentikan Dengkur

Hanya Lewat Kulit, Ilmuwan Temukan Cara Baru Menghentikan Dengkur – Peneliti dari Flinders University, Australia, mengembangkan pendekatan baru untuk mengobati obstructive sleep apnea (OSA), sebuah gangguan pernapasan saat tidur yang terjadi ketika saluran napas tersumbat dan sering ditandai dengan dengkuran keras. Kondisi ini diketahui tidak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan serius, termasuk penyakit kardiovaskular, gangguan metabolisme, hingga penurunan fungsi kognitif.

Pendekatan terbaru ini merupakan pengembangan dari terapi hypoglossal nerve stimulation (HNS), yaitu metode yang menggunakan stimulasi listrik untuk mengontrol saraf hipoglosus yang berperan menggerakkan lidah. Dengan stimulasi tersebut, posisi lidah dapat dijaga agar tidak menutup saluran napas saat tidur.

Keterbatasan Terapi HNS Konvensional

Selama ini, terapi HNS dikenal cukup efektif untuk sebagian pasien OSA, khususnya mereka yang tidak dapat menoleransi terapi Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Namun, metode HNS konvensional memiliki sejumlah keterbatasan. Prosedurnya memerlukan operasi dengan pemasangan implan berukuran relatif besar, bersifat invasif, dan membutuhkan waktu pemulihan yang tidak singkat.

Selain itu, HNS tidak selalu berhasil pada semua pasien. Faktor anatomi saluran napas, respons saraf, serta kondisi kesehatan tertentu membuat sebagian penderita dinilai tidak cocok menjalani prosedur tersebut. Kondisi ini mendorong para peneliti untuk mencari pendekatan alternatif yang lebih minim invasif, lebih fleksibel, dan dapat menjangkau lebih banyak pasien.

Dalam studi terbaru, tim Flinders University menguji elektroda HNS berukuran lebih kecil yang dirancang agar lebih mudah dipasang dan diatur. Berbeda dari metode sebelumnya, elektroda ini ditempatkan secara perkutan, yaitu melalui kulit dengan panduan ultrasonografi, tanpa memerlukan sayatan besar.

Uji Coba Awal Tunjukkan Hasil Menjanjikan

Uji coba dilakukan terhadap 14 partisipan penderita OSA di lab tidur, dengan kondisi yang disimulasikan menyerupai pola pernapasan saat sleep apnea. Dalam uji stimulasi singkat yang berlangsung selama beberapa siklus pernapasan, elektroda HNS versi baru ini berhasil membuka saluran napas pada 13 dari 14 partisipan, atau setara dengan tingkat keberhasilan 93 persen.

Menariknya, pada beberapa kasus, stimulasi saraf tetap efektif meski pernapasan partisipan telah berhenti sepenuhnya dan saluran napas tertutup total. Peningkatan aliran udara yang dihasilkan bahkan disebut sebanding dengan hasil terapi CPAP.

“Ini adalah prosedur selama sekitar 90 menit yang dilakukan dengan panduan ultrasonografi dan hanya menimbulkan ketidaknyamanan minimal,” ujar ahli THT Flinders University, Simon Carney. Ia menegaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan pembukaan saluran napas pada pasien yang sebelumnya dianggap tidak cocok untuk terapi HNS.

Alternatif bagi Pasien yang Tidak Toleran CPAP

Saat ini, CPAP masih menjadi garda terdepan terapi OSA karena efektivitasnya yang tinggi dalam menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur. Namun, masker yang harus dikenakan sepanjang malam membuat terapi ini sulit ditoleransi oleh banyak pasien. Diperkirakan hanya sekitar separuh pasien yang mampu menggunakan CPAP secara konsisten dalam jangka panjang.

Dalam konteks tersebut, HNS menjadi alternatif penting, terutama bagi pasien yang gagal menjalani terapi CPAP. Versi HNS terbaru yang dikembangkan Flinders University dinilai memiliki keunggulan karena lebih minim invasif, berpotensi dipasang di klinik rawat jalan, serta memiliki waktu pemulihan yang lebih singkat dibandingkan operasi konvensional.

Foto: Dr. Amal Osman, Penulis Utama Penelitian OSA, Flinders News

Peneliti utama Amal Osman menyebut pendekatan ini dapat mengurangi biaya dan risiko prosedur, sekaligus meningkatkan tingkat keberhasilan terapi. Selain itu, karena lebih fleksibel, terapi ini juga berpotensi disesuaikan secara lebih presisi berdasarkan kondisi anatomi dan pola tidur masing-masing pasien.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa studi ini masih bersifat awal dan dilakukan pada kelompok partisipan yang relatif kecil. Pengujian lanjutan dengan jumlah pasien lebih besar dan dalam kondisi tidur alami masih diperlukan sebelum teknologi ini dapat diterapkan secara luas.

Ke depannya, tim Flinders University juga berencana mengembangkan penggunaan jangka panjang, mengintegrasikan teknologi ini dengan perangkat wearable, serta mengeksplorasi kemungkinan stimulasi saraf dan otot lain untuk meningkatkan aliran udara. Pakar tidur internasional dari Flinders University, Danny Eckert, menyatakan tujuan utama penelitian ini adalah memberikan lebih banyak pilihan terapi yang aman, nyaman, dan efektif bagi penderita sleep apnea. (teknologi.id)

Info ruanglab lainnya:

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *